Menjadi Bagian Dari Ekosistem

Berbicara mengenai hutan, hutan sudah menjadi bagian dari masa kecil saya ketika masih tinggal di sebuah perkampungan di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.

Menyelam kembali ruang ingatan, saya masih ingat betul bagaimana hutan menjadi penopang hidup sebagian besar masyarakat di kampung. Tidak terkecuali kakek dan nenek saya yang saban hari keluar masuk rimba. Ya, tepat di belakang rumah terdapat hutan rawa yang apabila air sungai sedang surut, mereka akan lebih banyak melakukan aktivitas di dalam hutan. Entah itu mencari kayu bakar untuk dipakai sehari-hari ataupun dimanfaatkan sebagian orang untuk dijual. Sesekali saya dan adik diajak menyusuri hutan bersama nenek saya dan beberapa ibu-ibu untuk mencari kayu bakar. Dengan menggunakan alas kain yang dililit di atas kepala (Orang kampung menyebutnya Tengkuluk) para ibu-ibu ini memikul kayu bakar yang sudah diikat dengan rotan dan memikulnya di atas kepala untuk dibawa ke rumah.

Tidak hanya itu, kayu-kayu di hutan juga dimanfaatkan untuk membuat sampan. Dengan menggunakan peralatan seadanya ; Gergaji, ketam, paku dan getah damar, kakek saya juga ulung mengolah kayu-kayu tersebut menjadi sampan yang digunakan untuk menangkap ikan apabila air sungai sedang pasang.

——————————————————-

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti acara Forest Talk with Blogger Pekanbaru yang digagas oleh Yayasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality Indonesia di Hotel Grand Zuri Pekanbaru, Sabtu, 20 Juli 2019 dengan mengusung tema “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari”. Kota Pekanbaru merupakan kota keempat yang disambangi setelah empat kota lainnya; Jakarta, Palembang dan Pontianak.

Ibu Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia

Saya dibuat tercengang dengan fakta-fakta kondisi lingkungan yang dipaparkan oleh Narasumber. Potret hutan di Indonesia ternyata tidak seindah dalam bayangan saya.

“Selamatkan Bumi yang Sekarat”

Sebait kalimat dari Ibu Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia mengawali materi forest talk pada pagi itu. Terdengar menakutkan memang, namun kalimat tersebut terdengar lebih masuk akal melihat kondisi alam kita saat ini. Isu perubahan iklim di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Indonesia ternyata menjadi salah satu negara yang berkontribusi besar menyumbangkan emisi karbon (CO2) bagi pemanasan global.

Penyebab Pemanasan Global

Yang lebih ironi lagi, hutan yang berfungsi menyediakan oksigen bagi manusia dan penyerapan karbondioksida justru semakin terkikis keberadaannya. Tingginya deforestasi dan degradasi hutan menjadikan kualitas udara semakin memburuk akibat menurunnya penyerapan karbondioksida di udara.

Artikel Akibat Perusakan Hutan

Dibuka dengan rentetan artikel yang bercerita mengenai dampak dari perusakan hutan Dr. Atiek Widayati selaku perwakilan dari Tropenbos Indonesia melanjutkan sesi Forest Talk pagi itu dan semakin menambah kekhawatiran saya melihat kondisi hutan di negara kita saat ini.

Dr. Atiek Widayati selaku perwakilan dari Tropenbos Indonesia

Grafik Laju Deforestasi Indonesia

Tidak hanya sebatas pemaparan materi saja, kami juga diajak berkunjung ke sebuah desa yang berada di areal konsesi PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI), yaitu Desa Makmur Peduli Api (DMPA) di Desa Batu Gajah, Kecamatan Tapung, Kampar.

Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Kota Pekanbaru, dua bus melaju membawa rombongan kami menuju Desa Batu Gajah. Melewati jalan beraspal dan masuk ke jalan tanah areal konsesi PT PSPI yang merupakan mitra pemasok kayu Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Arara Abadi untuk bahan baku pabrik kertas Asia Pulp & Paper–Sinar Mas Forestry Region Riau.

Melewati sela-sela areal perkebunan yang ditanami dengan pohon akasia dan pohon eucalyptus yang menjulang tinggi saya terkesan kali pertama melihat secara langsung bagaimana penampakan perkebunan dua tanaman utama bahan baku pulp dan kertas yang dikelola oleh PT PSPI. What a good experience!

Sampai di tengah areal perkebunan, bus kami menepi di sebuah rumah kecil dengan sekumpulan warga yang sudah menunggu ketibaan rombongan kami. Bertepatan dengan jam makan siang, saya dan rombongan beserta warga bersantap makan siang diselingi dengan makanan yang disediakan oleh warga yang berasal dari kebun milik mereka.

Selesai menyantap makan siang kami mendengarkan arahan dan penjelasan dari beberapa perwakilan/ketua dari masing-masih program DMPA itu sendiri serta dari humas PT PSPI. Program DMPA PT PSPI di Desa Batu Gajah sudah masuk tahun ke tiga sejak didirikan pada penghujung tahun 2015.  Dari beberapa program yang sudah dilaksanakan seperti Kelompok Pertanian, Perikanan dan peternakan, yang sudah berhasil salah satunya adalah ternak sapi. Dengan sistem bergulir sapi-sapi ini diternak oleh warga yang ditentukan oleh ketua kelompok program peternakan sapi yang kemudian dilanjutkan ke penerima manfaat berikutnya. Saat ini, dari enam ekor sapi yang diterima sudah berkembang menjadi 18 ekor.

Program ini dilaksanakan dalam rangka memberikan pemahaman dan penyadaran kepada masyarakat di sekitar areal konsesi perusahaan untuk meningkat perekonomian dan pembukaan serta pemanfaatan lahan tidak harus melakukan pembakaran untuk membersihkan lahan milik mereka.

Hal pertama yang rasakan saat melihat langsung bagaimana potret kehidupan masyarakat di tengah areal konsesi tersebut adalah dampak sosial dari kegiatan deforestasi hutan tersebut. Bagaimana interaksi yang terjalin antara pihak perusahaan dengan warga setempat dengan program-program yang telah dibentuk sangat membantu menunjang ekonomi dan kehidupan masyarakat disana.

Sore hari pun menjelang kami pun kembali ke hotel untuk acara penutupan dengan segudang pengalaman dan ilmu yang berharga.

————————————————–

Merangkum dari semua runtutan kegiatan hari itu saya tersadarkan. Bahwa hal penting yang perlu kita ketahui adalah paradigma kita untuk lebih memahami dan mengenal alam. Karena kita adalah BAGIAN DARI EKOSISTEM yang saling berhubungan satu sama lain. Manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, manusia perlu mahluk hidup lain termasuk tumbuh-tumbuhan untuk kelangsungan hidup. Untuk bernafas, keberlangsungan ekonomi serta fungsi penting lainnya.

Hanya sesederhana itu kita perlu memahami dan membaca tanda-tanda apa yang alam telah bisikkan kepada kita. Banjir, longsor, pencemaran udara/kabut asap, bahkan udara yang kita hirup setiap detikpun perlu campur tangan hutan di dalamnya. Mari kita jaga hutan kita untuk menyeimbangi apa yang alam telah beri untuk kita. Lestarikan hutan untuk diwariskan ke generasi kita berikutnya di masa depan.

Terima kasih kepada Yayasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality Indonesia yang telah menyelenggarakan kegiatan yang sangat keren ini. Terima kasih telah bergerak membantu membenahi pengelolaan lingkungan di negara ini. Terima kasih untuk sehari yang penuh makna yang telah menjembatani kami mencintai alam. Terima kasih untuk souvenirnya, keripiknya enak dan gurih semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s